Para pembaca "The Story of Marind" edisi Pertama

Books, Writings

&

My Journey

PART # 1

Now I stand here. At this place, at this time…

Ketika orang bertanya, teman-teman bertanya tentang karier menulisku saat ini. Jujur aku menjadi oleng. Ya, di sinilah aku sekarang. Lebih banyak mengedit, jarang menulis.

Sastra dan Terjemahan adalah adalah kegemaranku, harusnya aku banyak bergiat di dunia literasi, dan semacamnya. Aku punya komunitas, yang sekarang bernama “Rumah Sastra Kita” (sudah berganti-ganti nama berkali-kali). Rumah Sastra Kita yang nyaris ambyar, oleh karena satu dan hal lainnya.

Komunitas/ grup yang semula sangat aktif, begitu solid, saling menyapa, bersahut-sahutan dengan puisi mendadak surut lagi senyap. Tiba-tiba seperti atap yang retak dan kemudian berlubang. Tak teduh lagi. Namun aku salut pada teman-teman yang selalu getol mengusahakan untuk jumpa, jalan, piknik bareng dan reunian. Dengan demikian kita bisa bersama, tetap sehati, klop dan menjauhkan prasangka. Lebih bangga lagi, Yogyakarta yang menjadi jembatannya 😉 Very proud of that!

0 Kilometer YK – Bertebar senyuman

Baik, stop dulu tentang itu.

SRINGE, oleh karena blog pribadi ini dibuat dengan maksud dan tujuan untuk menginspirasi banyak orang, di mana pun. Aku ingin menceritakan perjalananku dalam menulis buku, dari awal dan pertama.

“The Story of Marind” (SOM) adalah semacam kumpulan feature (bukan hanya cerpen semata), yang kurangkai sebagai buah tangan atau oleh-oleh perjalananku di dunia jurnalistik selama berada di dunia jurnalistik selama berada di Pulau Cenderawasih (Prov. Irian/ Papua), tepatnya di Kabupaten Merauke, tempat swargi nenekku Lucia Suhartuti mengabdi pada negara sebagai guru di SD Semangga IV. Sekembalinya ia ke hadirat sang pencipta tahun 2006, ia pun dimakamkan di sana.

Sebagai buku pertama dengan jujur kuakui bahwa karya ini (SOM) begitu banyak terkontaminasi dengan kehidupanku selama di sana, bagaimana orang-orang suku Marind dan sekitarnya berkehidupan sehari-hari, dan pengalamanku di sana dengan orang-orang Indonesia timur yang ramah maupun keras. Yang saat itu bisa dibilang sama sekali baru buatku (Sekarang, berkat pengalamanku di sana aku sudah leluasa bergaul dengan kawan-kawan baik dari daerah timur maupun barat Indonesia dengan lebih memahami karakteristik masing-masing, kelebihan dan ketertarikannya, ngobrol pun dapat lebih nyambung).

Oke, balik ke SOM… sehingga mungkin aku telah menyalahi aturan buku fiksi— di mana bukuku tidak sepenuhnya fiksi— meskipun jika ditilik dari unsur ciri-cirinya jelas itu masuk dalam jenis karya sastra cerpen atau jenis karya fiksi.

Sampai-sampai saat kuminta pendapat salah seorang teman, yang juga penulis favoritku, Arswendo Atmowiloto.

Mas Arswendo bilang begini melalui pesan singkatnya dari Jakarta:

“Isinya (SOM) bagus, cover juga bagus.

Materi isi agak baur: fiksi ala cerita ato

catatan pribadi.

Tapi kalau untuk promo bagus. Meyakinkan!”

 

Aku tersenyum, tersentil saat menerima pesan itu. Terima kasih!!

Sungguh… pujian yang menggembirakan dan menyakitkan. Pada faktanya, tak seorang pun atau satu dinas pun di sana yang memesan pembuatan naskah ini, atau mempekerjakanku untuk misi semacam ini. Tulisan-tulisan ini murni ide dan tanggung jawabku sebagai penulis. Dan menerbitkan naskah ini sangat membahagiakanku karena sesuai dengan sub judul SOM yaitu “Persembahan untuk Anak-Anak Papua”, aku behasil mempersembahkan karya ini untuk mereka. Well, that was my story about my first book.

Sangat bangga dan berterima kasih kepada desainer cover-nya, editor, first reader dan Warintek Bangalore 2013 as the publisher. J J J

 

~ BERSAMBUNG ~

 

*Pertanyaan, saran, dan komentar silakan di bawah ini ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here