EMAS DI 2020…

0
97

Syukuri berkah-Nya. Kita mendapatkan energi kita kembali. 2020… tahun keemasan 🙂

Selamat siang tuk semuanya. Maaf karena ruang ini menjadi agak ‘wingit’ oleh sebab lama tak ditengok oleh empunya. Namun sesungguhnya,  jauh di dalam lubuk hatiku ada rasa penyesalan juga tidak bisa mengisi ruang ini selama beberapa waktu dikarenakan oleh kesibukan yang harus saya jalani 🙂

Proses kehidupan begitu rumit, membingungkan, namun pada saat tertentu sangat membahagiakan.  Percaya saja!

Kesulitan-kesulitan telah tertebus rasanya, dengan air mata kebahagiaan. Dari titik balik ini aku berangkat, berangkat ke arah masa depan. Dengan armadanya perahu kayu yang kami rakit-bangun dengan susah payah, namun penuh kegembiraan. Di dalam bersama-sama arah yang tak kuketahui lama-kelamaan menjadi jelas.

Ke sana… menuju ke pulau kebahagiaan. Rasanya semua orang berhak berbahagia…

“Apakah kamu tidak ingin bahagia?” (Mengulang pertanyaan Romo). Aku pikir mustahil ada manusia yang menginginkan ketakbahagiaan (unhappiness).

Semua orang perlu mengkaji pertanyaan ini. Nah, jika ada seseorang yang ingin mengajakmu bahagia, atau membahagiakanmu… Kenapa tak ikut saja dengan perahunya? Atau bangunlah armada bersamanya, sebuah rumah kemudian sebagai tempat untuk pulang dan selalu kembali.

Seperti ketika aku memutuskan untuk mengikut Kristus; dulu, hari itu, hari ini, dan seterusnya. Karena Ia luar biasa. Ibu-Nya adalah perawan suci yang tak bernoda dan tak bercela. Tiada kecewa dalam mengikut di dalam Tritunggal Maha Kudus.

Hanya bahagia. “Hanya bahagia yang kurasa”, itu bunyi kutipan puisiku entah yang mana. Kukira puisi zaman SMA mungkin! Aku suka menulis, tetapi kuakui saat ini aku sedang tak bisa menulis. Bodoh menyusun kata oleh oleh karena terlalu bahagia. Haha. Kalian mungkin kesulitan memahaminya, karena mungkin kemarin aku menangis. Tak ingin lagi kusebut lagi tahun-tahun yang terlalu lalu, yang menyimpan beban berat ingin kutimpa saja dengan bahagia. Dengan senyuman manis… 

“Melihat senyum-senyum kebahagiaan orang-orang yang kita sayangi adalah sebuah berkah. An amazing grace. Tidak akan pernah tega menyakiti… Hanya perlu bersyukur dan bersyukur.” 

(Damaika)

*

Di Hari Pahlawan di tahun lalu menjadi sebuah ‘tugu peringatan’ bagiku juga. Hari bersejarah di mana aku dilamar. Yang dalam istilah Jawa itu artinya seseorang telah diikat satu sama lain bersama pasangannya dengan sarananya “pengiket” biasanya berupa cincin dan asok tukon.  Aku tidak melihat  apa-apa di diriku, selain penampilan. Tepatnya aku terlalu dangkal dalam melihat ke kedalaman hatiku. Namun di dalam wajah dan perangai kekasih aku melihat ketegangan yang luar biasa. Hampir menunduk antara cemas dan khawatir. Ia hendak meminta seorang gadis kepada kedua orang tua gadis itu. Takutkah ia tak diterima? 

Aku tersanjung akan sikapnya, merasa berharga. Begitu bermakna. 

Aku juga melihat wajah orang tuaku yang bahagia: tetapi berat melepaskan. Di balik acara: Mbah Uti yang sudah menahan perasaan, akhirnya memelukku dan menangis dalam pelukanku. Adik-adikku nampaknya happy juga (meski sama, berat melepaskan), sepupu-sepupuku pun demikian turut gembiranya. Aku terharu, akhirnya dapat ku-bubak jalan bagi mereka.

Aku teringat obrolan dengan seorang teman dekat, tentang kebahagiaan dan ketakbahagiaan, Tidak ada jaminan kita bisa selamanya bahagia atau sebaliknya. Memang sangatlah tepat bahwa kebahagiaan adalah anugerah dari Tuhan. Lantas siapakah yang harus menjaganya. Kitalah yang harus menjaga kebahagiaan itu. Jangan takut akan ketakbahagiaan!

“The Future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.”

(Eleanor Roosevelt)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here