SpiritNews.Co

MENUNGGU SENJA KE LOSARI

by Damaika Saktiani Isidora

Ahai, kulihat-lihat rumah ini di hari kedua. Lantainya kotor, dua ruangan kamarnya sempit. Masing-masing kamar hanya sekitaran 2 x 3 meter, kecil sekali. Kamar tamunya tidak berperabot, kecuali sebuah lemari pakaian usang yang disandarkan di luar rumah karena separuh sisinya sudah pincang dimungkinkan karena usia lama. Kalau Pak Tukang yang dijanjikan ibu pemilik sudah datang untuk beres-beres, akan kuminta ia untuk membawa masuk lemari ganjil ini. Lumayan, untuk wadah pakaian atau piring-piring nanti, atau juga perkakas dapur. Kamar mandinya besok akan kurapikan sendiri, kamar mandinya berukuran cukup besar, seukuran kamar tidur.

Semalam aku memang menginap di rumah ibu yang mengontrakkan rumah ini, tetapi pikiranku sudah berada di rumah ini. Seperti ada magnet yang menarik-narikku. Namun aku bagaikan paku yang terhalang kayu.

Bermacam-macam desas-desus yang kudengar. Tidak ada yang mau mengontrak rumah ini lah. lagi kata tetangga rumah ini berhantu; karena sangat seramnya. Meski begitu harga kontrakan rumah ini sangat murah untuk ukuran Kota Makassar, hanya sejuta dua ratus per tahun. Jadi kuambil saja, tidak perlu ditanya dua kali. Kukontrak setahun dulu. Kan, aku hanya seorang perawat. Perawat itu… – tau sendiri– Asisten dokter pun bukan, eh… asisten dokter muda… iya!

Aku tiba dari Tanah Merah, Papua Selatan ke Makassar ini untuk berkarya di bidang kesehatan. Aku berlabuh dari Pelabuhan Soekarno-Hatta dua hari lalu dan langsung berkelilinglah aku ketika itu sampai menemukan tempat tinggal. Dua pekan lagi aku akan mulai bekerja sebagai tenaga lepas di RSUP. Dr. Wahidin Sudiro Hu. Aku akan menerima gaji UMR tiap bulan dan berlatih kemandirian di pulau saudara. Tapi itu masih dua pekan lagi sehingga aku masih mempunyai waktu longgar untuk membenahi rumah kontrakan, berjalan-jalan ke pantai, berbelanja, memasak ikan dan membuka taman kecil di depan serta memasang tali jemuran di atap rumah. Kuharap airnya tidak susah.

Mama mengontakku sekitar jam sepuluh pagi di sini, di sana sudah jam sebelas siang.

“Bagaimana, sudah ko dapat tempat kontrakan di situ? Jangan lupa mengirit. Mama Bapa su tak ada uang lagi.”

“Jangan khawatir, sudah kudapat rumah kontrakan murah sekali. Jauhhhhhhh nian dari Bandara dan Pelabuhan.”

“Tak apa lah, ko ini belum apa-apa sudah mengaduh.”

“Tapi dekat dengan rumah sakit. Dengar dulu lah, Si Mama ini.”

“Syukur pada Tuhan…”

Setelah mama menutup teleponnya dari rumah kami di ujung timur sana, rasanya makin tak ada lagi yang bisa kukerjakan. Hanya menunggu telepon berikutnya mungkin, dan itu tak mungkin. Telepon mama yang selanjutnya pasti berjarak waktu agak jauh, setidaknya sehari lagi. Kalau begitu aku menunggu ibu yang mengontrakkan rumah datang kemari, atau setidaknya menelepon. Syukur-syukur bila membawa tukang.

Sejam, dua jam, empat jam, akhirnya lima jam sudah aku menunggu. Menunggu tanpa ada janji. Lebih waktu asar, mau ke pantai tapi sudah tak mungkin. Rasa lapar mulai menusuk-nusuk di perut. Aku pun mulai berjalan ke luar mencari sekedar penenang rasa lapar. Tetapi, rasa lapar itu tak selamanya butuh nasi, ketela, ikan atau daging untuk membuatnya tenang. Aku berjalan lewat Jl. Poros ke RSUP, tempat di mana dua pekan lagi aku akan bekerja di sana. Luas sekali bangunan dan tanahnya; lebih dari seratus ribu meter persegi, gedungnya pun megah bertingkat-tingkat, sebentar lagi aku akan menjadi bagian yang sangat kecil dari rumah sakit megah itu.

Di dekat area parkir yang cukup luas ini aku bahagia. Kusentuh dan tidurkan rambutku yang diterpa angin. Aku berbalik untuk menemukan dan membeli apa saja di jalan yang dapat kumakan. Akan tetapi ajaib, sudah tidak sedikit pun kurasa lapar. Setengah berlari, kurang dari satu jam aku sudah sampai di rumah kontrakan. Ibu yang mengontrakkan rumah duduk meleseh di teras memangku rantang susun, dua orang tukang membuat taman kecil dan memasang jemuran di samping rumah. Ketika ibu itu melihatku dia berteriak, “Ke sini! Ini nasimu, makanlah dulu…” Aku mengangguk. Dalam hati aku bingung, memangnya aku siapa? Anaknya bukan, keponakan pun bukan, mengapa ia baik hati sekali.

Setelah kenyang aku memberanikan diri bertanya, “Nama Ibu ini siapa?”. “Kau tak usah bingung-bingung memikirnya, panggil saja aku ‘Ibu’”. “Haa?”. “Masih kurang jelas, panggil ibu saja ya…” Aku mengangguk. Lalu orang yang meminta kupanggil ibu itu meminta kunci yang kusimpan.

“Biar dua tukang ini bersihkan kamar mandi atau toilet, serta dapurmu.”

“Ruangan lain terserah, tetapi kamar mandi jangan terlalu bersih ya.”

“Haa, apa tidak salah dengar aku ini?”

“Hendak kubersihkan sendiri. Lagipula terlalu bersih akan terkesan modern, biar saja nampak tradisional. Seperti Pelabuhan Paotere bila dibandingan dengan Soekarno-Hatta.”

“Aneh sekali. Bila kau sudah masuk kerja di rumah sakit nanti pasti kau berubah. Kau pasti ingin terkesan lebih modern.”

“Ingin kaya tepatnya. Tapi sebelumnya aku ingin berfoto di Pantai Losari, serta beli ikan dan rempah di Pelabuhan Paotere.”

“Ya… ya… ajak saja anakku besok pagi!”

“Rumpun Nawali?”

“Sekolah dia. Ajak saja Miko!”

“Saya sendiri saja, Bu.”

“Asal jangan jalan kaki saja, itu jauh!”

*

Pukul 9 malam mereka selesai berbenah, lemari usang sudah di dalam. Ibu juga sudah membawakan sebuah meja dan cermin untukku berhias. Kasur di tempat tidur sudah diganti dan diberi seprai, sedangkan kasur yang lama sudah dibawa pulang oleh Ibu. Aku akan tidur nyenyak. Dalam hati aku bingung, memangnya aku siapa? Anaknya bukan, keponakan pun bukan, mengapa ia baik hati sekali.

Seperti sudah kuduga, aku tidur sangat nyenyak dan lelap. Aku bangun kesiangan. Jam 9, bayangkan siang sekali bukan untuk ukuran seorang gadis. Dari jendela yang belum berhordin, sangat mudah kuketahui bahwa di luar sudah sangat panas, matahari sudah tinggi. Aku menuju kamar mandi. Mengambil kursi pendek, duduk dan mulai mengamplas dinding bagian bawahnya. Lalu dinding bagian atasnya. Aku ambil sapu panjang dan sekop yang ditinggalkan oleh para tukang kemarin, membersihkan lamat-lamat yang tinggal di sini entah sekian lama. Kusekop sampah-sampahnya dan kubawa keluar. Ketika masuk kembali ke kamar mandi, hawa panas sudah mulai berubah menjadi lebih dingin. Selayaknya kamar mandi. Kuputar kran, kukuras bak, kupel lantainya lalu kututup pintu yang pada daunnya sudah mulai rusak dan mengelupas. Aku buang air kecil. Lalu melanjutkan acara bersih-bersih, termasuk bak kamar mandinya yang besar, dan terakhir membersihkan daun pintu kamar mandi. Lega dan senang rasanya.

Jam 12 Ibu yang mengontrakkan rumah datang lagi, kali ini sendiri. Tentengannya masih serupa; rantang susun nasi yang pastinya berteman sayur dan lauk. Ah baik sekali dia, memangnya aku ini siapa? Anaknya bukan, keponakan pun bukan.

Pintu sudah dibuka, ia langsung masuk dan berkata, “Tak jadi ke pantai, engkau?” Aku menggeleng.

“Wah, bersih sekali kamar mandimu. Rupanya engkau bersungguh-sungguh ya. Makanlah dulu, kau pasti lapar dan lelah.”

“Ibu, terima kasih ya.”

“Anakku Miko sudah kutanya, dia mau mengantarmu ke pantai pakai motor. Bagus kalau kau belum jadi ke Losari sana, nanti sore barangkali bagus kalian lihat sunset.”

“Ya Bu, saya pikir-pikir dulu…”

“Kamar mandimu itu sudah cukup bersih. Besok lagi, saja…”

“Belum lagi ada peralatannya. Ada toko yang dekat Bu?”

“Orang timur memang ngotot. Kau lurus saja keluar gang ini, sampai di jalan utama kau jalan 500 meter ke barat ada toko yang lengkap. Tidak usah menyeberang! Di sana memang ada dua toko yang berhadapan, tetapi jangan terkecoh. Jika kau ke toko seberang, harganya akan jauh lebih mahal, Oke?”

“Oke. Setelah makan siang ini saya ke sana.”

“Ya, biar kutunggu di sini.”

Aku makan sendirian, Ibu bilang sudah makan duluan.

Toko yang ibu bilang tak terlalu besar, tak terlalu bagus. Jauh dari harapanku, bukan seperti di televisi. Toko yang di seberang jalan jauh lebih besar. Baiklah, tetap fokus. Tak perlu menyeberang.

Pintu toko ini ternyata kecil dan agak rusak. Tetapi fisik toko ini ternyata kecil memanjang ke belakang, dan yang mengejutkan adalah ya, dia sangat lengkap. Pemiliknya seorang Daeng yang ramah, bicaranya memang membentak-bentak, tapi itu bagiku ramah. Pegawainya dua orang, satu Cina satu penduduk sini.

Aku membawa pulang dua kursi plastik tanpa sandaran, satu ember, peralatan mandi, sisir dan juga peralatan makan: dua piring plastik, dua mangkok, dua gelas, dua cawan, satu set sendok dan satu lusin sendok plastik.

Kubawa dengan susah payah di bawah terik matahari.

“Kau ini, seperti Samson ya? Bawa barang sebegitu banyak…”

“Biasa Bu, bantu Mama bawa barang banyak ke pasar.” Aku meletakkan barang-barang itu dengan tak rapi di sudut kamar tamu yang memang masih melompong di sudut mana pun.

“Ibu mau duduk? Sekarang saya sudah punya kursi plastik.” Aku tersenyum.

“Anak baik…” Kata Ibu yang baru saja memberesi dapur agar dapat dipakai. “Ini mau pulang.” Katanya sambil menenteng rantang yang sudah kosong dan bersih.

“Ibu, jadi Miko bisa antar saya, nanti?”

Ibu senyum, “Tak usah nanti, sekarang pun bisa.”

“Nanti sore saja, hendak melihat matahari tenggelam.”

“Ibu bilang ke Miko kalau begitu. Biar dia ke sini.”

“Terima kasih banyak dan terima kasih yang lebih banyak lagi. Sa tidak pernah cukup bisa berterima kasih pada Ibu.”

“Tidak papa. Jangan begitu Anakku.”

“Kalau suatu saat Ibu sakit, meskipun kita tidak mendoa begitu. Saya yang akan merawat Ibu…”

“Baiknya engkau ini, seperti aku Ibumu saja…” Aku tersenyum dengan rapi, semanis mungkin melihat kebaikannya.

Dan kami pun tergelak sama-sama sebelum Ibu yang Mengontrakkan Rumah pulang. Kupenuhi bak kamar mandi… penuh cahaya dari luar sana melewati lubang-lubang ventilasi kecil. Aku mandi menunggu sore tiba. Untuk pergi ke Pantai Losari.

Dan jika esok masih ada, Pelabuhan Paotere juga kukira.

(gb: lintas NTT)

 

1807’019

2 KOMENTAR

  1. Kita Cinta Indonesia. Indonesia tanah air jaya sakti. Indonesia pusaka abadi nan jaya. Indonesia Nusantara indah jaya kaya.

  2. Carrie Underwood is my favourite US singer. She is young, beautiful and charming female in her 30s. Her voice takes me away from all problems of this planet and I start enjoy my life and listen songs created by her mind. Now she is on a Cry Pretty 360 Tour started in May of 2019. The concerts scheduled for the whole 2019, up to the last day of October. Tickets are available for all men and women with different income. If you love contry music, then you must visit at least one Carrie’s concert. All tour dates are available at the Carrie Underwood tour Linkoln. Open the website and make yourself familiar with all Carrie Underwood concerts in 2019!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here