Wijaya Kusuma/ Bunga Satu Malam (Budidaya/ Fotografi: Bernadeta Tri Susanti/ Damaika Saktiani Isidora)

SATU HARI… (Kontemplasi)

by Dsi

Satu hari aku sadar

Telah sedemikian jauh aku berjalan

Sendirian… tapi sebenarnya

tak pernah sendirian

 

Bahkan kita (kau dan aku)

mau tak mau menyadari

Alam dan bahkan yang kegaiban yang

tak tersentuh pun, telah lama mengintai kita

Kapan?

Ya, mungkin kau bertanya kapan karna kau lupa

Kujawab: “Sejak awal kita bersama

Hingga kita berpisah.”

*

 

Satu hari aku sadar

Mungkin doa dan harapan

orang-orang di sekitarku

yang menyelamatkan daku:

dari kebisingan

dari kepesimisan

dari kekacauan

dari keterpurukan,

keterasingan,

dan thethek bengek-nya

Jadi aku selamat

Besarlah Ia, aku merasa terberkati

 

Jika aku mendapat

literan  penghinaan dan pengkhianatan

kuteguk, kumuntahkan

Itu tidak berpengaruh dan

sedikit sekali manfaatnya

bagiku

*

Budidaya/ Fotografi: Bernadeta Tri Susanti/ Damaika Saktiani Isidora

 

Baik. Sampai di mana tadi?

Oh dihina. Diteriaki, di-bully?

Aku tak asing lagi

Tak apalah, kadang bagian dari kehidupan

itu tak mesti indah

tak mesti bagus

Jadi, untuk semuanya saja

dengarkan aku: “Abaikan, lupakan!”

 

Kecuali…

manakala dipukul

Balas, pukul yang lebih keras

Atau manakala hendak dipukul?

Kalau memang begitu pukul saja duluan

yang keras!

Tapi kita-kita juga harus baca situasi

kalau memang kekuatanmu dan medannya tak memungkinkan

kita semua tahu berlari bisa menyelamatkan segala-galanya

Ha ha ha

Stop

*

 

Oh, aku memang

bukan pemuisi yang baik!

Lihat saja, banyak tumpahan

kecap di situ

begitu baur dengan hidupku

 

Aku memang bukan pujangga keraton

Syukur pada Tuhan untuk ini

Aku bebas menulis apa saja

Tak harus babad, atau kisah cerita Ramayana

— Karna aku tak mampu —

oleh karenanya saudaraku…

hanya cuilan cuilik-cuilik ini

yang bisa menarik-kembangkan sayap-sayapku

menjadi lebih bebas

dari kapan pun

 

20/3‘019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here