TRADISIONAL YANG MODERN

1
334

Judul resensi    : Tradisional yang Modern

Judul buku      : Nujum

Pengarang       : Damaika Saktiani

Penerbit           : Warintek Bengalore Yogyakarta

Tahun terbit     : 2017

Peresensi         : Putri Zulikha

Kisah yang menarik. Itulah kesan pertama yang saya dapatkan setelah membaca novel ini. Kisah langka dari sebuah novel zaman sekarang. Novel ini bernuansa tradisional karena mengandung kisah mistis, namun dikemas dengan gaya modern. Paradoks yang unik dan apik saya kira. Di tengah-tengah membludaknya pasaran novel romansa atau semacam motivasi kehidupan, novel ini bagai angin segar dalam ranah sastra. Saya bilang sastra, bukan karya sastra populer. Mengapa demikian?

Novel ini mengandung banyak hal dan disajikan dengan berbagai sisi. Jika dalam novel Dilan ada buku yang versi Dilan dan ada yang versi Milea, novel ini memuat semua versi menurut pandangan tokohnya masing-masing. Bahkan, versi pencerita di luar semua tokoh sekalipun. Meskipun demikian, tidak sulit untuk memahami kisah yang digelar. Alurnya pun tetap tersusun rapi. Pembaca dimudahkan dengan keterangan di bawah judul subbab tentang siapa tokoh utama yang bercerita dalam subbab tersebut.

Bisa dikatakan bahwa novel ini tergolong dalam sastra perjalanan karena beberapa tokohnya melakukan perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain. Di beberapa perjalanan tokoh juga dideskripsikan mengenai sejarah dan budaya daerah setempat. Bahkan, dijelaskan juga tentang makanan khas daerah tersebut. Tempat yang dikunjungi juga beragam. Hal itu membuat pembaca diajak berjalan-jalan oleh pengarang. Tidak hanya itu, pengetahuan pembaca pun bertambah karena informasi-informasi yang dinarasikan dalam kisah ketiga wanita berkekuatan supranatural ini, yaitu Mali, Shiva, dan Hayu.

Mali ialah seorang nujum atau bisa disebut juga cenayang. Akan tetapi, dia termasuk bijak dalam menggunakan kelebihan yang diberikan Tuhan kepadanya. Mali merupakan seorang pemandu wisata yang juga melukis. Wanita yang sering menusukkan pensil di gelungan rambutnya ini terpikat hatinya oleh seorang bule bernama Eric yang akhirnya meninggalkannya karena pulang ke negara asalnya. Mali juga mempunyai seorang adik tiri yang bernama Wilma. Sama seperti dirinya, adiknya juga memiliki keanehan sejak kecil. Wilma seringkali kesurupan sehingga ibunya memasukkan keris penangkal ke badannya hingga lama dia tidak kesurupan. Akan tetapi, suatu pagi Wilma kembali kesurupan karena dimasuki oleh ruh Soca. Siapakah Soca? Hantu kok modern sekali. Fyi, bagian ini cukup membuatku tergelitik karena ibu Wilma mengira Soca sebagai kuntilanak.

Soca merupakan teman Shiva. Pertemanan yang cukup aneh, tetapi justru membuat kisah ini semakin menarik. Shiva terlahir di keluarga yang kurang berada, sedangkan Soca merupakan anak orang kaya. Meskipun Soca seringkali menghina Shiva, dia sebenarnya sayang dengan Shiva. Bahkan, dia memberikan tumpangan tempat tinggal dan berbagai bantuan ekonomi lainnya kepada Shiva. Akan tetapi, pertemanan mereka harus selesai ketika Soca meninggal karena dibunuh oleh Shiva. Di dalam tubuh Shiva terdapat ruh ular yang haus membunuh. Sudah banyak korban yang dihasilkannya. Akan tetapi, Shiva justru tidak keberatan dengan keberadaan ruh ular tersebut. Dia malah memanfaatkannya untuk mewujudkan keinginannya. Bahkan, Mali juga hampir menjadi korbannya. Untung ada Hayu yang dapat mencegahnya.

Hayu berpacaran dengan Sabi, lelaki berbibir sumbing. Hal itu membuat orang-orang heran dengan Hayu. Seorang gadis yang cantik, pintar, dan berada mau berpacaran dengan lelaki yang berkekurangan. Meskipun begitu, Hayu merasa sangat beruntung karena memiliki Sabi yang pintar membuat puisi untuknya. Seperti ini contohnya, “kembali lekaslah kembali/ kekasih cepatlah manis/ kau tahu?/ sabar hanya milik pertapa/ sedang aku ini pendhapa tua/ datang dan berteduhlah/ penghuni pertama dan terakhir”.

Kisah cinta mereka mampu mengesankan Shiva meskipun akhirnya mereka tidak bersama karena kebodohan Sabi, yaitu keinginan balas dendam atas sakit hati yang dirasakannya terhadap saudara kembarnya yang tidak sumbing. Pengkhianatan Sabi yang sebenarnya tidak dilakukan secara utuh tersebut hampir saja membuat gadis pembaca mimpi ini depresi. Hayu sempat kabur dari rumah dan akhirnya ditemukan oleh Wilma setelah kesurupan Soca. Namun, keputusan yang Hayu ambil justru semakin membuat Sabi menderita dan membuatnya merasa bersalah. Penasaran kan dengan ceritanya? Saya sangat menyarankan Anda untuk membacanya.

Yang sangat disayangkan adalah ketidakjelasan atas kehadiran ruh Soca pada menjelang akhir cerita. Ruh Soca kembali dimunculkan, tetapi tidak dijelaskan maksudnya apa sehingga membuat pembaca bertanya-tanya. Jika kembalinya ruh Soca diulik lebih dalam oleh pengarang pasti kisah ini akan semakin menarik. Kemudian, akhir yang tidak selesai, bukan ngambang, diperjelas oleh pengarang dalam epilog. Meskipun tidak sepenuhnya tertutup, akhir cerita ini kurasa kurang begitu greget. Pencarian Shiva kepada kakaknya juga tidak menuai jawaban, padahal hal itulah yang membuatnya melakukan perjalanan hingga ke Bali.

Lalu, apa yang dilakukan Sabi setelah Hayu bertunangan dengan musuh bebuyutannya? Ya, kurasa menarik juga kalau dibuat novel kelanjutannya dengan menjawab semua kekosongan cerita dalam kisah ini. Seru juga kalau versi Saba dituangkan sehingga pembaca tahu apakah Saba merasa tersakiti dengan sikap kembarannya ataukah biasa saja dan justru memanfaatkannya untuk mendapatkan Hayu. Yang jelas-jelas Hayu lebih dalam segalanya ketimbang pacarnya yang direbut oleh Sabi. Kekosongan lainnya juga muncul karena tidak dijelaskannya mengenai alasan adik Soca yang begitu menyayanginya, padahal orang tua mereka sekalipun tidak begitu peduli dengan kematiannya.

Hal lain yang membuat saya sedikit terganggu ialah seolah ada keberjarakan antara saya dengan teks. Dilihat dari tahun yang disebutkan dalam narasi, kisah ini dekat dengan pembaca. Akan tetapi, pemunculan expertphone yang seolah membuat kisah ini berasal dari masa depan diambigukan dengan pemakaian media komunikasi berupa sms, email, dan bodybook. Hal itu membuat pembaca merasa memiliki jarak dengan teks karena pembaca lebih akrab dengan whatsapp, line, atau instagram dalam berkomunikasi, sedangkan sms saya kira sudah tidak laku. Mengirim pesan melalui sms dan email membuat pembaca merasa bahwa latar kisah berada di tahun-tahun lalu. Sedangkan kekurangpopuleran bodybook juga membuat pembaca kurang dekat dengan teks ini.

Ada sedikit kesalahan penggunaan “di” yang ditemukan dalam novel ini. Akan tetapi, penyajian kisah ini lumayan enak untuk dinikmati. Karena alur yang menarik dan ide cerita yang unik membuat saya ingin segera menamatkan kisah ini meskipun tebal. Sebenarnya kisah ini tidak begitu panjang, namun karena ketebalan kertas yang digunakan membuat novel ini terkesan begitu tebal. Efek lain yang timbul dari ketebalan kertas juga membuat pembaca agak kesusahan dalam memegangi halaman yang sudah dibaca karena cukup membuat pegal menahan kekakuan kertas yang akan segera menutup buku jika tidak dengan kuat dipegangi.

Novel ini memang berbobot. Bukan hanya karena ketebalan kertas dan massanya, melainkan juga isinya. Sudah saya katakan di awal bahwa novel ini tergolong sastra. Kalau dibilang sastra, berarti novel ini termasuk karya serius, tetapi tidak sastra yang kaku. Pembawaannya yang enak dan hampir mirip karya populer membuatnya asyik dibaca. Satu lagi, kembali muncul pertanyaan dalam otak saya. Apakah sampul buku ini memang dibuat semiotis atau bagaimana? Karena saya kurang begitu paham maksudnya jika disambungkan dengan isi novel. Namun demikian, sedap juga sampul ini dipandang mata dan membuatnya terkesan unik. Ah bukan unik, tapi susah diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas sampul ini memiliki daya tarik tersendiri.

Selamat membaca kisah ini!

*Peresensi adalah penari tari Aceh Sanggar Rampoe UGM, sastrawan, dan mahasiswi semester akhir pada Jurusan Sastra Indonesia pada Universitas Gadjah Mada, Sleman Yogyakarta.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here